Royal Enfield Continental GT: Paling Cepat & Paling Ringan

Royal Enfield (RE) adalah manufaktur yang akarnya tertanam jauh ke tahun 1863. Mulanya, manufaktur ini terkenal sebagai pembuat senjata, ini direfleksikan pada logo meriam yang terpatri pada produk-produk mereka seperti Royal Enfield Bullet. Dengan motto membuat motor yang tangguh bagai sebuah senjata, dan melesat seperti sebuah peluru, Royal Enfield membangun produk dengan kesungguhan dan tradisi ‘built for last’.

Sebagai manufaktur yang punya sejarah panjang, daya tahan Royal Enfield pun ditempa di medan perang. RE diterjunkan pada Perang Dunia Pertama (PD1), dan Perang Dunia Kedua (PD2). Sejarah daya tahan mereka di medan perang membuatnya tidak hanya dipakai oleh pemerintah Inggris, namun juga kerajaan Rusia (PD1).

Berbekal pengalaman pasca perang, RE mulai meracik beragam motor, namun tidak pernah meninggalkan tradisi ‘old school’. Salah satunya adalah Continental GT yang pertama kali mengaspal pada tahun 1964. Motor dengan desain bertema cafe racer ini, menjadi salah satu motor paling disukai oleh konsumen di Inggris dan membentuk sub-kultur rockers di sana (Mods VS Rockers).

READ  Keunggulan Menggunakan Ban Tubles

Kini, sejarah panjang Royal Enfield tiba di Indonesia melalui PT Rizky Enerji Indomotor (REI). Mereka pun membawa masuk Continental GT terbaru sebagai lini andalan mereka untuk pasar Indonesia

Royal Enfield Continental GT terbaru memakai mesin berkapasitas 535 cc berpendingin udara. Mesin ini pun punya tradisi panjang, karena berbasis mesin Royal Enfield Bullet yang mulai di produksi pada abad ke-19. Mesin terbuat dari alumunium itu dipasang pada frame baja karya Harris Performance, toko modifikasi high-end Inggris yang berspesialisasi pada pengembangan sasis dan suspensi. Frame-nya memakai desain double craddle atau dikenal pula dengan sebutan ‘featherbed’, di mana batang frame utama dibuat paralel dan memperkuat satu sama lain.

Bodi-nya diracik oleh Xenophya Design (asal Inggris). Desainer bodinya sangat berhasil membuat Continental GT menarik perhatian. Remnya memakai produk Brembo, velg alloy Excel dengan desain jari-jari, shock ganda gas lansiran Paiolo terpasang di belakang, sementara garpu depan (41 mm) dan ban Pirelli Speed Demon 100/90 di depan, dan 130/70 di belakang.

Uji Jalan
Unit yang kami uji berwarna merah, dan sudah mengalami modifikasi ringan dengan penambahan cover lampu serta pergantian bentuk ‘buntut tawon’ khas cafe racer. Aplikasi opsional itu bisa dipesan melalui REI.

READ  Mau Berkendara dengan Gaya Retro? Pakai Honda Scoopy!

Sejurus kemudian, motor kami hidupkan dengan menekan tombol starter elektris. Jika ingin, Anda juga bisa menghidupkannya memakai kick starter Suara ‘ngebass’ dari saluran buangnya cukup menggetarkan jiwa. Sebagai motor paling ringan, dan paling bertenaga lansiran Royal Enfield, tonjokan tenaga dari mesin bertenaga puncak 29,1 hp pada 5.100 rpm dan torsi 44 Nm pada 4.000 rpm.

Koplingnya ringan, girboks lima percepatannya pun memiliki rasio lebar. Dikombinasi dengan limpahan tenaga terbatas, akselerasi bukanlah nilai lebih dari motor ini. Pada gigi satu, motor seolah tidak merespon putaran mesin dengan baik, namun begitu gigi dua, Continental GT terasa sangat hidup (tepatnya pada 2.000 hingga 3.000 rpm).
Meskipun tak ideal untuk akselerasi, berbekal power-band sempit, puncak tenaga diraih pada RPM 5.100 membuat motor ini cukup fleksibel membelah lalu lintas kota dan melibas jalan menanjak. Tidak perlu rpm tinggi untuk mendapatkan power yang tinggi.

Getaran yang dihasilkan mesin, merambat hingga setang bermodel clip-on ketika berakselerasi. Tapi bagi kami ini justru membangkitkan rasa nostalgia ketika sedang membawa motor tua. Menuang jiwa pada motor Inggris yang kini diproduksi di India.

READ  Sejarah Dan Cara Modifikasi RX King

Posisi mengemudi yang rendah (31,5 inci) sangat nyaman bagi rider bertubuh 170 cm. Bergenre cafe racer, motor ini ideal dipakai menikung, cukup untuk memberi senyum merekah di ufuk bibir Anda.
Di Indonesia, motor ini dijual Rp 225 juta (off the road Jakarta). Dengan harga tersebut, Anda bisa meminang Harley Davidson Street 500 cc yang juga dibuat di India dan telah dijual di Indonesia.

Dari segi desain, Royal Enfield tentu saja tidak kalah dengan HD, meskipun nama besar HD lebih harum di Indonesia. Kembali ke hasil pengujian kami. Setelah tiga hari becengkrama dengan Continental GT, satu yang pasti: kami menyukai nya. Tidak hanya memiliki desain yang menarik, ‘old school bike’ ini sangat sesuai dengan kondisi lalu lintas Jakarta.

Tags: